Nelayan dan Sebongkah Emas

Juni 22, 2012

Hidup seorang nelayan. Seperti biasa tugasnya mencari ikan di laut. Suatu ketika ia mendapatkan ikan yang di dalamnya terdapat sebuah emas. Dengan sedikit kaget kemudian ia bermaksud menjual emas itu kepada penjual emas yang di Kotanya tinggal. Namun, tidak satu pun dari mereka yang sanggup membelinya dikarenakan emas yang didapt nelayan itu adalah emas langka dan jenis itu adalah satu – satunya yang tersisa. Dengan sedikit agak kecewa, nelayan itu terus berusaha untuk menjual emas itu karena yang ia perlukan hanyalah uang untuk makannya sehari – hari. Kemudian salah seorang penjual emas mengusulkan agar ia menjual emas itu kepada raja saja. Karena rajalah yang paling kaya di kota ini.

Dengan penuh semangat pemuda ini kemudian pergi ke istana raja dan setelah sampai di sana ia langsung mengatakan maksud dan tujuannya. Kemudian Raja melihat emas yang ia bawa. Setelah beberapa saat ia mengatakan, “Maaf, aku tidak sanggup membelinya karena harga emas ini sangat mahal”. Mendengar hal itu sang nelayan pun kecewa. Namun, seorang raja tidak kehabisan akal. Ia mulai memainkan strateginya. Ia kemudian berkata kepada nelayan itu. “Aku tidak sanggup membelinya, namun kalau kau mau kita bisa barter”, kata sang Raja. Raja kemudian melanjutkan, “Kita barter. Aku akan mengambil emas ini dan sebagai gantinya kau akan menjadi Raja di istanaku ini selama 7 jam. Selama 7 jam itu pula kau bebas melakukan apa saja dan boleh mengambil apa saja di Istanaku ini”. Mendengar hal itu nelayan langsung setuju. Raja menyuruh nelayan itu datang lagi esok hari. Sebelum itu dimulai Raja mulai memasang siasat. Ia memerintahkan seluruh pegawainya untuk masak makanan yang enak dan memakai pakai yang bagus.

Esok harinya, sesuai perjanjian nelayan itu akan menjadi Raja selama 7 jam di Istana itu. Sebelum di mulai Raja berkata, “Nelayan, kau akan berkuasa penuh selama 7 jam di Istanaku ini pada 3 tempat. Pertama ruang makan, ruang tidur yang ada disebelahnya dan kemudian taman raja.”. Nelayan setuju. Dimulai acara barte tersebut.

Nelayan itu kemudian masuk diistana dan langsung disambut dayang – dayang Istana. Kemudian ia langsung dikenakan baju kebesaran Raja. Ia pun mulai bangga. Dalam hatinya ia akan mengambil sebanyak – banyaknya barang yang ada di Istana. Dayang langsung menggiringnya ke Ruang makan. Nelayan itu terkejut, dalam hatinya ia akan mengambil gelas emas itu, piring emas itu, kursi dan sebagainya. Namun, hal itu baru sekedar ia tandai dalam hatinya. Ia mengatakan, “Aku akan mencoba makanan ini dulu. Waktu ku kan masih panjang, setelah makan baru aku aku akan mengambil semua barang – barang ini. Ia pun makan dengan sangat lahap karena semua makanan disini sangat enak. Ia pun mulai merasa mengantuk, ia melihat jam. Waktu yang habis baru satu jam, masih ada 6 jam lagi. Waktuku masih panjang untuk mengambil semua barang – barang yang ada di rua ini. Ia kemudian memerinthklan dayang – dayang untuk membawanya ke Ruang tidur. Sesampainya disana, ia terkejut. Luar biasa Ruang tidur ini. Ia kemudian berniat akan mengambil lampu – lampu kamar yang indah, baju – baju Raja yang sangat bagus dalam lemari. Tapi sekali lagi masih sekedar ditandai. Ia kemudian membuka jendela dan terlihatlah taman Raja yang sangat indah yang ditumbuhi berbagai pepohonan dan ada air mancurnya. Ia berniat akan mengambil semua buah yang da di taman itu.

Tapi karena matanya sudah sangat mengantuk, ia masih hanya sekedar menandai. Belum benar – benar mengambil.

Ia melihat jamnya, waktuku masih panjang. Aku akan tidur dulu sejenak di kasur yang empuk ini. Nelayan pun kemudian tidur. Waktu pun berlalu dan ternyata ia suda tidur selama 7 jam. Berarti iatelah menghabiskan waktunya di istana itu selama 8 jam. Sudah melewati perjanjian. Raja pun memerintahkan prajurit untuk menyeret nelayan itu keluar Istana. Prajurit pun melakukannya, ketika Prajurit membangunkan nelayan itu ia terkejut. Dan mencoba melawan serta mengatakan “Aku belum mengambil apa pun di Istana ini”. Sang prajurit pun menyuruh ia untuk melihat jamnya. Ternyata sudah lewat 1 jam dari perjanjian. Prajurit kemudian membawa nelayan itu keluar istana.

Nelayan itu sangat kecewa, bukan saja karena ia belum sempat menikmati taman Raja namun yang lebih mengecewakan ia tidak membawa apa – apa dari istana itu. Padahal sang Raja berhasil mengambil emas yang sangat mahal itu darinya.

 

Hikmah: Begitulah hidup kita. Kita sudah Allah emas yang sangat mahal kepada kita, bukan hanya satu bahkan banyak. Islam, Iman, sehat dan sebagainya adalah nikmat yang sangat mahal hargnya. Allah memberikan kita waktu di dunia ini kalau kita ambil umur nabi 60, 70 atau paling lama 80 tahun yang dalam cerita tadi kita ilustrasikan 7 jam. Allah menyuruh kita untuk beramal sebanyak – banyaknya di dunia ini. Ambillah bekal yang akan kita bawa nanti untuk di akhirat. Jangan hanya sekedar  tanda. Ah, saya kalau sudah begini akan shalat berjamaah. Saya kalau sudah kaya akan berinfak sekian. Tapi hanya sekedar tanda seperti cerita tadi. Belum melakukan. Kita sibuk di dunia ini hanya untuk perut. Setelah perut kita terisi kita akan lalai, banyak tidur seperti cerita tadi. Kebanyakan kita hidup di dunia ini hanya untuk perut. Kerja siang malam hanya untuk makan. Tapi kita jarang meluangkan waktu kita untuk Allah. Padahal Allah selalu menunggu – nunggu kita untuk kembali kepada – Nya. Perut, sekali lagi kita selalu sibuk untuk perut. Ya Allah, dimana hati kita hari ini. Kita terkadang mengatakan mau masuk surga tapi kita jarang meluangkan waktu kita untuk Allah. Kita sibuk selalu untuk dunia kita. Bahkan kita terkadang mengatakan tidak punya waktu lagi untuk ibadah saking sibuknya untu dunia. Maka, puasa ini adalah salah satu cara kita untuk menundukkan perut kalau kita melakukannya dengan benar. Semoga Allah kembali membukakan hati – hati kita agara kita bisa kembali beribadah kepada – Nya dan kelak Allah berkenan memberikan kita kesempatan untuk memasuki surga –   Nya. Amin…

 

Sumber: salah satu ceramah Ustadz Tajuddin Nur, Lc dengan cerita sesuai dengan yang diingat, mungkin ada sedikit perbedaan dengan ceramah aslinya.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images